Labels

Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Wednesday, August 27, 2014

MUHAMMAD SAW, dan Kesiapannya Menerima Ajal

Treat ini tidaklah di maksudkan sebagai kampanye hitam atas sosok seseorang yang oleh sebagian manusia di bumi di yakini sebagai Nabi, bahkan bukan sembarang Nabi, tetapi seorang Nabi besar, nabi terakhir atau Nabi yang menutup pintu kenabian, sebagaimana di imani oleh penganut agama Islam.

Bahwa setiap ciptaan atau makhluk akan menemui keakhiran atau maut itu sudahlah pasti. Kita sering menyebutnya sebagai ajal. Ajal tidak bisa di tolak atau di hindari dengan cara apapun, bahkan andai kita mampu membuat kubah emas untuk melindungi diri kita sendiri, ajal akan sampai juga kepada kita. Itulah satu dari sekian kekuatan dan kuasa Brahman - Tuhan Yang Maha Kuasa - yang berlaku atas semua karya ciptaNya.

Dalam keyakinan sebagian manusia di bumi, bahwa saat sakaratul maut akan memberikan gambaran bagi seseorang apakah ia termasuk ke dalam golongan orang-orang baik dan ikhlas ataukah golongan yang lainnya , yaitu golongan mereka yang merugi. Orang-orang yang menjalankan hidup dan kehidupannya atas dasar tuntunan Brahman - Tuhan YME - tak akan merasakan penderitaan dan sakit saat sakaratul maut tiba. Sebaliknya mereka yang menyia-nyiakan kesempatan di masa hidup, tak memiliki kejujuran dan keikhlasan dalam menjalankan kewajibannya, maka akan merasakan penderitaan dan rasa sakit yang amat sangat ketika maut datang menjemput.

Tulisan dengan judul "Detik-detik Wafatnya Nabi Muhammad SAW" ini saya copast dari ATJEH CYBER MEDIA, tanpa maksud mendiskreditkan atau melecehkan individu atau kelompok tertentu, selain bahwa ada hikmah, manfaat serta pengetahuan yang dapat di ambil dari peristiwa tersebut, yang tujuannya untuk kebaikan, kesadaran dan penyadaran hidup kita.
***************************

Detik-detik Wafatnya Nabi Muhammad SAW

POSTED On : 22 -Dec - 2012 ― EDITOR By : Atjehcyber Team

PAGI itu, Rasulullah dengan suara terbata-bata memberikan petuah: “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan Cinta Kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah hanya kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, Sunnah dan Al-Qur’an. Barang siapa yang mencintai Sunnahku berarti mencintai aku, dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku,".

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Ustman menghela nafas panjang dan Ali menundukan kepalanya dalam-dalam.

Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia.

Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana sepertinya tengah menahan detik-detik berlalu.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang yang berseru mengucapkan salam.

“Assalaamu’alaikum… .Bolehkah saya masuk ?” tanyanya.

Tapi Fatimah tidak mengijinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya kepada Fatimah.

“Siapakah itu, wahai anakku?”

“Tak tahulah aku ayah, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang.

“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. dialah Malaikat Maut,” kata Rasulullah. Fatimah pun menahan tangisnya.

Malaikat Maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit untuk menyambut ruh kekasih Allah dan Penghulu dunia ini. (sepertinya Malaikat Jibril Tidak Sanggup melihat Rasulullah dicabut nyawanya)

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?”  Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu langit telah dibuka, para malaikat telah menanti Ruhmu, semua pintu Surga terbuka lebar menanti kedatanganmu” kata Jibril. Tapi itu semua ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar kabar ini, Ya Rasulullah?” tanya Jibril lagi.

“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”

“Jangan khawatir, wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya’,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan Ruh Rasulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini,” ujar Rasulullah mengaduh lirih.

Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

“Jijikkah engkau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu, wahai Jibril?” tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direngut ajal,” kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik karena sakit yang tak tertahankan lagi.

“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada umatku.”

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.

“Peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah diantaramu”

Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

“Ummatii. ummatii. ummatii.”

“Wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya, maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam jannah-Ku.”

‘Aisyah ra berkata: ”Maka jatuhlah tangan Rasulullah, dan kepala beliau menjadi berat di atas dadaku, dan sungguh aku telah tahu bahwa beliau telah wafat.” 

Dia berkata: ”Aku tidak tahu apa yg harus aku lakukan, tidak ada yg kuperbuat selain keluar dari kamarku menuju masjid, yg disana ada para sahabat, dan kukatakan: 

”Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat.”

Maka mengalirlah tangisan di dalam masjid, karena beratnya kabar tersebut, ‘Ustman bin Affan seperti anak kecil menggerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan.

Adapun Umar bin Khathab berkata: ”Jika ada seseorang yang mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah meninggal, akan kupotong kepalanya dengan pedangku, beliau hanya pergi untuk menemui Rabb-Nya sebagaimana Musa pergi untuk menemui Rabb-Nya.” 

Adapun orang yg paling tegar adalah Abu Bakar, dia masuk kepada Rasulullah, memeluk beliau dan berkata: ”Wahai sahabatku, wahai kekasihku, wahai bapakku.” 

Kemudian dia mencium Rasulullah dan berkata: ”Anda mulia dalam hidup dan dalam keadaan mati.”

Keluarlah Abu Bakar ra menemui orang-orang dan berkata: ”Barangsiapa menyembah Muhammad, maka Muhammad sekarang telah wafat, dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah kekal, hidup, dan tidak akan mati.” 

‘Aisyah berkata: “Maka akupun keluar dan menangis, aku mencari tempat untuk menyendiri dan aku menangis sendiri.”

Inna lillahi wainna ilaihi raji’un, telah berpulang ke rahmat Allah manusia yang paling mulia, manusia yang paling kita cintai pada waktu dhuha ketika memanas di hari Senin 12 Rabiul Awal 11 H tepat pada usia 63 tahun lebih 4 hari. Shalawat dan salam selalu tercurah untuk Nabi tercinta Rasulullah.

Allahumma shali'alla sayyidina wa mawlana Muhammad....
 
By ATJEH CYBER MEDIA™| Copyright © 2013 —


Sumber:

http://www.atjehcyber.net/2012/12/detik-detik-wafatnya-nabi-muhammad-saw.html

Saturday, February 22, 2014

ISLAM SKRIPTUALIS

Tulisan dengan Judul "Islam Skriptualis" saya ambil dari Blog "JEJAK PERADABAN" dengan link : http://fahmilanisti.blogspot.com/2011/05/islam-skriptualis_02.html ,  semoga saja dapat menambah wawasan dan cara pandang kita terhadap ke-Bhinneka-an guna merajut harmonisasi dan saling pengertian dalam kehidupan berbangsa.

Selasa, 03 Mei 2011

Islam Skriptualis

 "Mas, salam sejahtera bukannya salamnya orang Kristen yah?"Pertanyaan di atas dilontarkan adik saya ketika menonton Mario Teguh Golden Ways di Metro TV. MT yang menyapa audiennya dengan Assalamualaikum Wr.Wb, lalu disambung salam sejahtera untuk kita semua, langsung direspon dengan adik saya, yang kemudian muncul pertanyaan seperti itu."Mang adek kata siapa?" tanyaku. Fahdi, adik saya menjawab kalau dia diberitahu oleh gurunya di salah satu SD Islam Terpadu di Depok. Yang saya tahu di sekolahnya, mayoritas gurunya adalah simpatisan partai Islam yang mengusung misi dakwah ala Arab dan ke-Timur-Timur Tengahan."Iya, kata guruku waktu pelajaran bikin surat. Kalau assalamualaikum salam kita (orang Islam), kalau salam sejahtera itu punya orang Kristen," kilahnya.

Saya pun langsung membantah pernyataan dia dan gurunya itu: salam sejahtera bukan cuma orang Kristen aja yang ngucapin. Islam agama universal, orang non Islam pun boleh kok ngucapin assalamualaikum, dan salam sejahtera itu juga salamnya orang Indonesia, bukan salam agama tertentu.

Sungguh sangat disayangkan kelompok umat Islam yang terjebak pada simbol, kata-kata yang menurutnya di luar dari teks ayat suci dikatakan sesat atau bukan bagian dari Islam. Islam memang dari Arab, tapi bukan berarti Arab itu Islam. Kelompok skriptualis yang hanya menelan dan menafsirkan dogma atau doktrin Islam mentah-mentah hanya dari ayat dan teks suci, tanpa dimaknai filosofis atau asbabun nuzulnya bisa dikatakan taklid buta dan fanatisme akut terhadap golongan dan kelompoknya.Inilah benih kekerasan atas nama agama.

Kalau dulu Gus Dur pernah bilang: "Ganti saja Assalamualaikum dengan selamat pagi". Dan langsung mengundang kontorversi, dimana Gus Dur dikatakan sesat. Saya kira orang yang mengatakan sesat itulah kelompok Islam skriptualis yang secara membabi buta mengagung-agungkan gaya Arab daripada esensi dari Islam itu secara universal.

Wallahu'alam..

Oleh Nurfahmi Budi Prasetyo di Selasa, Mei 03, 2011.
Pada: http://fahmilanisti.blogspot.com/2011/05/islam-skriptualis_02.html

Jejak Peradaban

Tuesday, November 5, 2013

SEJARAH TULISAN: Asal Usul Tulisan Arab

Tulisan yang tersusun dari rangkaian huruf-huruf atau abjad memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peradaban umat manusia. Tulisan-tulisan yang berbentuk catatan-catatan kuno dalam berbagai inskripsi menyajikan berbagai informasi tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan peradaban manusia dimasa lalu. Karena itu, sebuah tulisan dari masa lalu sering disebut sebagai pintu masuk bagi manusia dimasa kini untuk dapat membalikan waktu dan hidup dimasa lalu.

Artikel tentang Sejarah dan Asal Usul Tulisan Arab ini saya ambil dari

Diposkan oleh ClustAdmin | 18.17 | Sejarah Budaya, Sejarah Tulisan, Tulisan Arab

Perjalanan panjang tulisan phonetis yang berawal dari daerah yang pertama menggunakan alphabet, pada dasarnya telah menjadikan tulisan ini terbuka bagi perubahan dan pembaharuan secara luas. Perubahan dan pembaharuan bentuk pola perlambangan, biasanya sangat ditentukan oleh kenyataan bahwa perlambangan yang didasarkan pada bunyi ucapan (phonetic) lebih leluasa untuk digunakan kepada bentuk-bentuk yang bervariasi serta disesuaikan dengan kondisi dan tempat di mana ia dikembangkan.

Rumpun Sinai dan Tulisan Semit Utara

Pada tulisan terdahulu telah dikemukakan bahwa alphabet Sinai telah memperlihatkan perkembangannya di dua tempat yaitu jazirah Arab bagian utara, Asia Kecil dan jazirah Arab bagian selatan. Perkembangan alphabet Sinai ke bagian utara memunculkan beberapa tulisan yang digunakan oleh mayoritas masyarakat pesisir Laut Tengah seperti tulisan Ibrany dan Siryani, di jazirah Arab belahan utara lahir pula tulisan Tadmury dan tulisan Nabthy dari rumpun tulisan Aramia. Bahkan menurut sementara ahli tulisan Devanagari kuno yang digunakan oleh masyarakat Asia Selatan (India) juga berasal dari rumpun alphabet Semit utara ini. Tulisan Devanagari ini berkembang bersama agama Budha ke beberapa wilayah di kawasan Asia selatan dan tenggara. Istilah Semit Utara di sini digunakan untuk menyebut tulisan-tulisan yang berkembang dari alphabet Sinai. Sementara perkembangan rumpun alphebet Sinai di bagian utara ini diperkirakan adalah tulisan Aramia (Aramaic) atau tulisan yang digunakan di Palestina, Syria dan Iraq. Akan tetapi kita tidak menggunakan istilah Aramia, karena Aramia bukan satu-satunya terminal bagi perkembangan di utara ini.

Orang-orang Nabthy (Nabatean), walaupun pada abad-abad sebelum Masehi di bawah pengaruh Romawi, malah orang-orang Nabthy ikut melakukan invasi ke wilayah Arab, namun secara kultural dan geografis, mereka sebenarnya termasuk suku bangsa Arab asli (Arab Baidah). Mereka pada awalnya adalah sekelompok imigran yang datang dari Transyordania dan menempati wilayah Edomite, Petra. Dari sini mereka meluaskan kekuasaan ke wilayah-wilayah lainnya. Sehingga bangsa Nabthy menjadi sebuah kekuasaan besar yang disebut dengan Kerajaan Anbath. Kerajaan ini memperoleh kejayaan di masa pemerintahan dipegang oleh Haritsats (tahun 9 sM.-40 M.) Pada saat ini kekuasaan mereka makin meluas bahkan hampir mencakupi seluruh dataran jazirah Arabia. Kerajaan Anbath di puncak kejayaannya telah meninggalkan warisan-warisan budaya yang bernilai tinggi. Ini dapat dilihat dari bekas-bekas peradaban Anbath yang terdapat di kota Petra, seperti bangunan-bangunan megah dan spektakuler yang menggambarkan bahwa Petra, sebagai pusat kekuasaan dan sekaligus pusat peradaban Anbath, telah maju dalam berbagai lapangan. Hal yang lebih penting dari itu bagi kita ialah bahwa kebudayaan Nabthy telah ikut berperan dalam membidani kelahiran tulisan Arab.

Orang-orang Nabthy dalam pergaulan sehari-hari menggunakan bahasa Arab, akan tetapi huruf-huruf yang mereka gunakan lebih cendrung berkarakter Aramia. Bentuk-bentuk yang mereka kembangkan ini akhirnya melahirkan suatu jenis tulisan sendiri yang kemudian dikenal dengan tulisan Nabthy. Pada abad pertama Masehi, saat kerajaan ini meluas secara pesat, semua hasil budaya mereka ikut memperoleh perkembangan. Tulisan Nabthy digunakan secara resmi di hampir seluruh wilayah kekuasaannya.

Tulisan Arab Selatan

Di wilayah-wilayah kerajaan Arab selatan, seperti kerajaan Saba’, Minaiyah, Himyar dan Yaman, semenjak waktu yang lama telah menggunakan sejenis tulisan yang berbeda dengan tulisan yang berkembang di jazirah Arab bagian utara, meskipun wilayah selatan ini juga mendapatkan pengaruh dari alphabet Sinai seperti telah diuraikan terdahulu. Tulisan ini kemudian dikenal dengan tulisan Musnad. Dari beberapa penelitian yang dilakukan, telah disimpulkan bahwa tulisan Musnad telah berkembang secara luas pada masyarakat Arab kuno di wilayah-wilayah yang membentang antara Yaman dan Syria di belahan utara jazirah ini. Ini dibuktikan dengan beberapa penemuan tertulis di daerah Delos (Yunani) dan Gaza, Mesir yang juga menggunakan tulisan yang mirip dengan tulisan Musnad (lihat : Zainuddin,1974:297 ; Abu Shalih Alfi (tt):20). Perkembangan ini terlihat pada beberapa cabang tulisan yang muncul mengikuti karakter tulisan Musnad, seperti pada tulisan yang digunakan oleh Bani Lahyan di bagian utara Makkah, tulisan yang digunakan oleh masyarakat Diyar Tsamud sekitar tahun 715 sM. Dan di wilayah bukit Shafa (bagian dari pegunungan Druze) di timur negeri Syam (Syria sekarang).

Ketiga tulisan yang merupakan perkembangan dari tulisan Musnad ini kemudian dinamai masing-masing dengan Lihyani, Tsamudy, dan Shafawy. Akan tetapi tidak diketahui perkembangan lebih lanjut dari ketiga jenis tulisan itu.

Penggabungan Tulisan-Tulisan Semit

Dari uraian di atas kita simpulkan bahwa di wilayah jazirah Arab setidaknya terdapat dua jenis tulisan yang berpengaruh secara dominan, yaitu : tulisan Nabthy dari kelompok tulisan Semit utara dan tulisan Musnad dari jazirah Arab selatan. Hal yang selalu menjadi perdebatan bagi kalangan ahli ialah : mana di antara kedua tulisan itu yang lebih berperan dalam pembentukan tulisan Arab seperti yang berkembang hingga saat ini Beberapa ahli tentang Arab selatan (Klasser, Neckel, dan Homel) cendrung berpendapat bahwa tulisan Musnad adalah bentuk tulisan Arab tertua ( Zainuddin, 1974). Flinder Patri alam tulisannya The Formation of The Alphabet (1912), malah berkesimpulan sebaliknya. Ia mengatakan bahwa tulisan Arab bukan berasal dari tulisan Musnad, karena tulisan Musnad telah musnah setelah perkembangannya di Himyar. Sejarawan muslim seperti Ibnu Khaldun dan Ibnu Khallikan sepakat mengatakan bahwa Musnad adalah asal-usul tulisan Arab (Ibnu Khaldun,1957:418; Ibnu Khallikan,1948:346).

Semenjak beberapa abad sebelum Masehi kota Hirah telah berperan besar dalam pengembangan tulisan-tulisan Semit. Di kota ini telah berkembang beberapa jenis tulisan yaitu : tulisan Nabthy, dari kelompok tulisan Aramia, tulisan Kindy yang berasal dari kota Kindah (selatan kota Hirah), dan tulisan Strangeli. Tulisan yang disebutkan terakhir ini adalah perkembangan dari tulisan Siryani. Peran yang lebih besar telah diberikan oleh kerajaan Anbath pada waktu Hirah menjadi wilayah kekuasaan kerajaan itu. Tulisan Nabthy sangat umum dipakai oleh orang-orang Hirah dibanding dengan tulisan-tulisan lainnya. Menurut beberapa peneliti Arab, perkembangan tulisan Musnad di Himyar, kemudian di bawa ke Hirah pada masa kerajaan Manazirah (268 – 628 M.). Semenjak waktu inilah bergabungnya pemakaian Musnad, Nabthy, Kindy dan Strangeli di kota Hirah.

Pengenalan Tulisan oleh Orang Hijaz

Pada abad- abad sebelum kelahiran agama Islam, di wilayah Hijaz, pemakaian tulisan boleh dikatakan tidak umum. Orang Hijaz tidak mementingkan komunikasi tulis, tetapi lebih mengutamakan kefasihan lidah dan kekuatan hafalan. Pewarisan informasi di kalangan dan antar kabilan Arab disampaikan melalui penuturan lisan, demikianpun tradisi tutur dipelihara dalam hafalan-hafalan mereka. Oleh karena itu di wilayah ini tidak banyak di temukan peninggalan-peninggalan tertulis.

Dari periwayatan yang kita terima tentang kehidupan masyarakat Arab pra-Islam antara lain ialah adanya suatu tradisi bertutur sejenis Pekan Raya Sastra (sauq). Pekan Raya ini merupakan ajang pertemuan para sastrawan untuk saling mengadu kekuatan hafalan serta kefasihan lidah mereka. Kegiatan ini dilaksanakan sekali dalam setahun dan diikuti oleh utusan kabilah-kabilah setempat. Tempat penyelenggaraan kegiatan ini antara lain yang lebih populer, yaitu di Ukaz dan dikenal dengan Sauq al-‘Ukaz, juga ditempat-tempat lainnya seperti Zulmajaz dan al-Majanah.

Hal yang perlu kita catatkan dari tradisi ini ialah bahwa setiap syair yang dianggap terbaik akan memperoleh penghargaan untuk “digantung” di Ka’bah setelah terlebih dahulu “ditulis dengan tinta emas”. Karya terbaik itu disebut dengan al-Mu’allaqat atau al-Muzahhabat. Akan tetapi fakta tentang kemajuan tradisi menulis di kalangan bangsa Arab pada waktu ini kurang mendukung, karena disamping tidak ditemukan nya manuskrip asli mu’allaqat itu juga karena ketiadaan sumber-sumber tertulis sejenis yang ditemukan di wilayah Hijaz ini. Kenyataan ini menjadi lebih sukar untuk melakukan identifikasi jenis dan bentuk tulisan yang digunakan, demikianpun untuk menentukan kapan tradisi menulis ini bermula di wilayah Hijaz dan dari tulisan apa ia mendapat pengaruh. C. Israr (1985:42) mengemukakan bahwa tulisan yang digunakan untuk penulisan al-mu’allaqat ialah tulisan jenis Nabthy yang berbentuk murabba’ (persegi). Namun fakta ini sedikit membingungkan karena jenis murabba’ yang huruf-hurufnya berkarakter persegi atau disebut juga dengan muzawwa adalah turunan dari tulisan Strangeli yang berasal dari Siryani (yang juga berkembang di Hirah). Sedangkan Nabthy lebih cendrung berkarakter bundar (mudawwar/ muqawwar).

Suatu hal yang agaknya telah disepakati oleh para ahli bahwa tulisan yang digunakan oleh orang Hijaz adalah berasal dari Hirah. Pada bagian terdahulu telah dikemukakan bahwa Hirah adalah terminal bagi beberapa jenis tulisan Semit, baik Semit utara maupun Semit selatan. Suatu riwayat yang dikemukakan oleh al-Baladzury agaknya juga tidak banyak membantu, karena ia hanya lebih menekankan pada tokoh yang membawa tulisan dari Hirah ke Hijaz tanpa keterangan tentang jenis tulisan yang dibawa. Al-Baladzury mengemukakan bahwa salah seorang kerabat dekat penguasa Daumatul Jandal Bernama Bisyr bin Abd. Malik al-Kindy telah belajar tulisan di Hirah. Beberapa waktu kemudian ia ke Makkah. Kepandaian menulis yang dimiliki oleh Bisyr ini kemudian mendapat perhatian dari Syofyan bin Umayyah dari suku Quraisy (Zainuddin,1974:306). Dengan demikian Bisyr dianggap sebagai orang pertama yang mengajari orang-orang Makkah menulis dan membaca, malah ia juga telah mengajari orang-orang Thaif, Diyar Mudhar dan Syam. Dari apa yang dikemukakan dapat diketahui bahwa orang-orang Makkah baru mengenal tulisan pada sekitar akhir abad ke 6 Masehi (semasa dengan Syofyan bin Umayyah).

Beberapa penemuan tertulis (inskripsi) yang dijumpai di berbagai tempat di luar wilayah Hijaz seperti di Ummul Jamal dan an-Namarah. Inskripsi yang ditemukan di Ummul Jamal (Syria) menggunakan tulisan Nabthi Mutaakhir dengan bahasa Nabthy Aramia serta memuat informasi tentang wafatnya raja Tanukh : Fihr bin Sala. Inskripsi ini diperkirakan ditulis pada tahun 250 M. Sedangkan inskripsi yang ditemukan di daerah Nammarah (Hurran/Syria) berisi tentang Imriil Qys, raja Arab dan tentang kabilah Nazar dan Usad. Inskripsi Nammarah menggunakan bahasa Arab (lahjah Quraisy) dan diperkirakan menggunakan jenis tulisan Nabthy Mutaakhir dan ditulis sekitar tahun 228 M.(Zainuddin,1974: 304). Demikianpun inskripsi Hijr Zabad yang ditemukan di daerah Khirbah (Zabad) yang menggunakan bahasa Yunani, Siryani dan Nabthi Mutaakhir (Arab kuno) diperkirakan ditulis pada tahun 511 M., dan inskripsi Houran yang terletak di pintu sebuah geraja di Luja yang ditulis dengan Naskhi kuno pada tahuan 568/9 M. Mengamati tulisan yang terdapat pada inskripsi-inskripsi tersebut dapat diperkirakan bahwa tulisan Arab berakar pada jenis tulisan itu, karena kemiripan huruf-hurufnya dengan tulisan Arab yang ada sekarang.

Bila inskripsi Ummul Jamal dan an-Namarah adalah bukti bagi perluasan dan perkembangan tulisan-tulisan yang terdapat di Hirah pada abad ke-3 M., maka dengan itu dipahami bahwa Hijaz pada waktu itu terlepas dari jangkauan perkembangan tulisan-tulisan Hirah. Hal itu tentunya bila riwayat Bisyr bin Abd. Malik yang dikemukakan terdahulu diterima sebagai titik bermulanya pengenalan tulisan oleh orang-orang Makkah. Sampai saat ini belum kita dapatkan keterangan yang lebih pasti tentang kapan dimulainya penggunaan tulisan di Makkah sendiri atau dengan kata lain kapan orang-orang Quraisy mulai mengenal tulisan. Namun demikian keterangan-keterangan tentang pengaruh Hirah bagi perkembangan tulisan-tulisan di wilayah Hijaz (Makkah dan Madinah) agaknya tidak perlu diragukan lagi.

Peninggalan-peninggalan tertulis dari masa-masa awal Islam seperti coretan-coretan yang di temukan di bukit Sala (Madinah), demikianpun inskripsi yang terdapat pada dam (bendungan) yang dibangun oleh Mu’awiyyah dan beberapa surat Rasulullah kepada raja-raja di sekitarnya, telah pula memperkuat dugaan tentang pengaruh Hirah bagi pertumbuhan tulisan Arab hingga ke masa awal Islam.

Wallahu a’lam bish-shawab

© Irhash A. Shamad.

Bagi pembaca yang memerlukan versi lengkap (plus referensi) dari artikel yang dimuat di blog ini, silahkan hubungi alamat berikut : irhash.shamad@gmail.com
For readers who need a full version (plus references) of articles appearing in this blog, please contact the following address: irhash.shamad@gmail.com

Irhash's Cluster © 2009

Thursday, October 31, 2013

NABI MELIHAT ALLAH SAAT ISRA MI'RAJ

Apakah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Melihat Allah ketika Isra Mi’raj? adalah pertanyaan besar bagi hati setiap manusia, tentu saja, khususnya hati setiap umat Islam. Maka untuk mengurangi rasa penasaran kita tentu saja harus memiliki rujukan yang valid, agar pengetahuan yang di peroleh adalah pengetahuan yang benar, bukan sebaliknya "menyesatkan".

Artikel yang berhubungan dengan Isra Mi'raj ini saya ambil dari www.konsultasisyariah.com  yang dipublish pada June 11, 2013, dengan judul:

Nabi Melihat Allah saat Isra’ dan Mi’raj

Pertanyaan:

Apakah waktu isra’ mi’raj Rasulullah bertatap muka langsung dengan Allah?

Dari: Yayuk

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, kaum muslimin sepakat bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang bisa melihat Allah dengan mata kepalanya sendiri, sebagaimana yang ditegaskan oleh Ad-Darimi dalam Ar-Rad Ala Al-Jahmiyah (hlm. 306), Syaikhul Islam dalam Majmu’ Fatawa (6/510), dan Ibn Abil Iz dalam Syarh Aqidah Thahwiyah (1/222)

Dan terdapat hadis yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menegaskan bahwa manusia apapun tidak mungkin melihat Tuhannya di dunia. Beliau bersabda,

تعلَّموا أنه لن يرى أحد منكم ربه عز وجل حتى يموت

“Yakini, bahwa seorangpun diantara kalian tidak akan bisa melihat Tuhannya sampai dia mati.” (HR. Muslim 7283, Ahmad dalam Musnadnya 5/433)

Yang menjadi perbedaan ulama adalah apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah ketika isra mi’raj ataukah tidak?

Kedua, perselisihan semacam adalah perselisihan yang masing-masing bisa ditoleransi. Karena itu, memilih pendapat apapun yang dipilih dalam perselisihan ini tidak dihukumi bersalah atau layak divonis memiliki aqidah menyimpang. Adz-Dzahabi mengatakan, .

ولا نعنف من أثبت الرؤية لنبينا في الدنيا، ولا من نفاها، بل نقول الله ورسوله أعلم، بل نعنف ونبدع من أنكر الرؤية في الآخرة، إذ رؤية الله في الآخرة ثبتت بنصوص متوافرة…

Kita tidak boleh bersikap keras terhadap ornag yang berpendapat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah di dunia maupun yang berpendapat sebaliknya. Sikap yang tepat, kita mengatakan, Allah dan Rasul-Nya yang paling tahu. Dan kita bersikap keras dan menilai sesat orang yang mengingkari Allah bisa dilihat pada hari kiamat. Karena keterangan bahwa Allah bisa dilihat pada hari kiamat terdapat dalam berbagai dalil yang shahih (Siyar A’lam Nubala’, 10/114).

Ketiga, ada 4 pendapat ulama tentang apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah ketika isra mi’raj ataukah tidak.

Pendapat pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah ketika mi’raj

Pendapat mayoritas ulama ahlus, mereka  sunah meyakini bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah ketika isra mi’raj. Syaikhul Islam mengatakan,

كان النزاع بين الصحابة في أن محمدا صلى الله عليه وسلم هل رأى ربه ليلة المعراج؟ فكان ابن عباس رضي الله عنهما وأكثر علماء السنة يقولون: إن محمدا صلى الله عليه وسلم رأى ربه ليلة المعراج وكانت عائشة رضي الله عنها وطائفة معها تنكر ذلك

Perselisihan yang terjadi di kalangan para sahabat adalah apakah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Tuhannya pada malam isra mi’raj? Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dan mayoritas ulama ahlus sunah berpendapat bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Tuhannya ketika isra mi’raj. Sementara Aisyah dan beberapa tokoh yang bersamanya, mengingkari aqidah ini. (Majmu’ Fatawa, 3/386).

Beberapa riwayat yang mendukung pendapat ini,

a. Keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, tentang firman Allah di surat An-Najm, yang artinya, ‘Sesungguhnya Muhammad telah melihat-nya pada waktu yang lain,  (yaitu) di Sidratil Muntaha.’ Ibnu Abbas menjelaskan tentang ayat ini,

رأى ربه فتدلى فكان قاب قوسين أو أدنى

Beliau melihat Tuhannya dan mendekat. Sehingga jaraknya seperti dua busur atau lebih dekat. (HR. Turmudzi 3280 dan Al-Albani menilai, shahih sampai kepada Ibnu Abbas).

b. Dari Qatadah, bahwa Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,

رأى محمدٌ ربَّه

“Nabi Muhammad melihat Tuhannya” (HR. Ibn Abi Ashim dalam As-Sunah no. 432 dan Ibnu Khuzaimah dalam Bab Tauhid no. 280. Namun riwayat ini dinilai lemah oleh sebagian ulama)

c. Keterangan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau ditanya oleh Marwan bin Hakam, apakah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Tuhannya. Jawab beliau, ‘Ya, beliau telah melihatnya.’ (HR. Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunah no. 218, Al-Lalikai dalam Syarh Ushul I’tiqad, no. 908).

Pendapat Kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah dengan hati.

Terdapat satu hadis yang mendukung pendapat ini, namun hadisnya dhaif. Karena statusnya hadis mursal. Hadis tersebut dari seorang tabiin, Muhammad bin Ka’ab Al-Quradzi, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, ‘Apakah anda melihat Tuhan anda?’ jawab beliau,

رأيته بفؤادي، ولم أره بعيني

“Saya melihat dengan mata hatiku dan tidak dengan mata kepalaku.” (HR. At-Thabari 27/46-47, dan Ibnu Abi Hatim no. 18699. Muhammad bin Ka’ab Al-Quradzi tidak berjumpa dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)

Diantara riwayat lain yang mendukung pendapat ini adalah keterangan Ibnu Abbas menurut salah satu riwayat dari Abul Aliyah,

أن النبي صلى الله عليه وسلم رأى ربه بفؤاده مرتين

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Tuhannya dengan hatinya dua kali. (HR. Muslim no. 176, Ahmad dalam musnad 1/223).

Pendapat Ketiga, Pendapat yang mengingkari bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah

Sahabat yang paling dikenal berpendapat demikian adalah Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anha dan Abu Dzar. Aisyah mengatakan,

من زعم أن محمدًا رأى ربه فقد أعظم الفرية على الله

“Siapa yang meyakini bahwa Muhammad pernah melihat Tuhannya, berarti dia telah membuat kedustaan yang besar atas nama Allah.” (HR. Bukhari 4855, Muslim no. 428, Turmudzi 3068, dan yang lainnya).

Ada dua ayat yang digunakan Aisyah untuk menguatkan pendapatnya, pertama firman Allah di surat Al-An’am: 103,

لا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الأَبْصَار

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan.

Namun sebagian ulama tafsir menilai bahwa mengingkari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah dengan ayat ini adalah pendalilan yang kurang tepat. Karena yang ditiadakan dalam ayat di atas adalah al-idrak (meliputi), sementara yang dibahas dalam masalah ini adalah ar-rukyah (melihat), dan melihat beda dengan meliputi.

Kedua, firman Allah di surat As-Syura,

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلاَّ وَحْياً أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولاً فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ

Tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan Dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.

Kemudian, dalam hadis dari Abu Dzar, beliau pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah Nabi melihat Allah ketika isra mi’raj? Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

نور أنى أراه

“Ada cahaya, bagaimana aku melihat-Nya.”

Dalam riwayat lain, “Aku melihat cahaya.” (HR. Muslim 178, Turmudzi 3282, Ahmad 21392, dan yang lainnya).

Pendapat Keempat, tawaqquf (tidak mengambil sikap)

Diantara yang berpendapat demikian adalah Sa’id bin Jubair, ulama tabiin, murid Ibnu Abbas. Said pernah mengatakan,

لا أقول رآه ولا لم يره

“Saya tidak berpendapat Nabi melihat Allah, tidak pula berpendapat beliau tidak melihat Allah.” (HR. Abu Ya’la, simak Masail fi Ushul Ad-Diyanat, hlm. 66)

Al-Qodhi Iyadh – ulama syafi’i – mengatakan,

ووقف بعض مشايخنا في هذا، وقال: ليس عليه دليل واضح، ولكنه جائز أن يكون

Beberapa guru kami tidak mengambil sikap dalam perselisihan ini. Mereka mengatakan, ‘Tidak ada dalil yang tegas dalam hal ini. Meskipun secara logika itu memungkinkan untuk terjadi.’ (As-Syifa, 1/261)

Selanjutnya mari kita simak keterangan Ibnu Abil Iz sebagai kata terakhir untuk menyimpulkan perselisihan ini. Setelah menyebutkan perselisihan apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah ataukah tidak ketika peristiwa isra mi’raj, beliau menyimpulkan,

لكن لم يرد نص بأنه صلى الله عليه وسلم رأى ربَّه بعين رأسه، بل ورد ما يدل على نفي الرؤية، وهو ما رواه مسلم في صحيحه، عن أبي ذر – رضي الله عنه – قال: سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم هل رأيت ربك؟ فقال: “نور أنى أراه” وفي رواية “رأيت نوراً”،

Hanya saja tidak terdapat dalil tegas yang menyatakan, beliau pernah melihat Tuhannya dengan mata kepala beliau. Sebaliknya, terdapat dalil yang menunjukkan bahwa beliau tidak melihat Allah secara langsung. Yaitu hadis yang diriwayatkan Muslim dalam shahihnya, dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Apakah anda melihat Tuhan anda?’ jawab Nabi, ‘Ada cahaya, bagaimana mungkin saya melihatnya.’ Dalam riwayat lain, ‘Saya melihat cahaya.’

وقد روى مسلم – أيضًا – عن أبي موسى الأشعري – رضي الله عنه – أنه قال: قام فينا رسول الله صلى الله عليه وسلم بخمس كلمات، فقال: “إن الله لا ينام ولا ينبغي له أن ينام، يخفض القسط ويرفعه، يرفع إليه عمل الليل قبل عمل النهار، وعمل النهار قبل عمل الليل، حجابه النور ، لو كشفه لأحرقت سُبحات وجهه ما انتهى إليه بصره من خلقه”

Juga diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah menyampaikan 5 kalimat,

Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak layak Allah disifati dengan tidur, Dia yang menaik-turunkan timbangan, amalan malam hari dilaporkan kepada-Nya sebelum datang amalan siang, dan amalan siang hari dilaporkan kepada-Nya sebelum datang amalan malam. Hijab-Nya adalah cahaya. Andaikan Allah menyingkap cahaya itu, tentu subuhat (pancaran) wajahnya akan membakar makhluk-Nya sejauh pandangan-Nya. (HR. Ahmad 19597 dan Muslim 179).

Kemudian Imam Ibnu Abil Iz menyimpulkan dua hadis di atas,

فيكون – والله أعلم – معنى قوله لأبي ذر: “رأيت نوراً” أنه رأى الحجاب، أي: فكيف أراه والنور حجاب بيني وبينه يمنعني من رؤيته، فهذا صريح في نفي الرؤية والله أعلم

Karena itu – Allahu a’lam – makna keterangan Abu Dzar, ‘Nabi melihat cahaya’, bahwa beliau melihat hijab. Artinya, bagaimana mungkin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melilhat Allah, sementara ada cahaya yang menjadi hijab antara diri beliau dengan Allah, yang menghalangi beliau untuk melihat Allah. Ini merupakan dalil yang tegas, beliau tidak melihat Allah ketika isra mi’raj.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

TENTANG KONSULTASISYARIAH.COM

KonsultasiSyariah.com menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Alquran dan Sunnah serta keterangan para ulama.

Konsultasi kesehatan dan tanya jawab Islam © Copyright 2009-2013 KonsultasiSyariah.com

KISAH ISRA' DAN MI'RAJ NABI MUHAMMAD SAW

Artikel ini menguraikan pengalaman dari perjalanan Nabi Muhammad SAW pada peristiwa Isra Miraj, yang saya ambil dari:

 
Majelis Maulid Wa Dzikir Sholawat Rokhmat Al Muhibbin Al Muqorrobin
Dec 13, 2011

KISAH ISRA' DAN MIRAJ NABI MUHAMMAD SAW

Isra Mi’raj merupakan peristiwa terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah kehidupan manusia, yaitu di mana seorang manusia dipertemukan dengan Penciptanya secara langsung dalam kehidupan dunia ini. Peristiwa tersebut hanya dianugerahkan Allah kepada baginda, Nabi Besar Muhammad saw. Tentunya dalam perjalanan itu banyak sekali pelajaran dan hikmah yang dapat kita petik. Jika dalam perjalanan keluar kota saja kita dapat memetik banyak pelajaran, bagaimana kiranya dalam perjalanan menjelajah alam semesta yang tujuan utamanya adalah untuk bertemu dengan Allah?
Berikut inilah ringkasan kisahnya

Pada suatu malam Nabi Muhammad SAW berada di Hijir Ismail dekat Ka'bah al Musyarrofah, saat itu beliau berbaring diantara paman beliau, Sayyiduna Hamzah dan sepupu beliau, Sayyiduna Jakfar bin Abi Thalib, tiba-tiba Malaikat Jibril, Mikail dan Israfil menghampiri beliau lalu membawa beliau ke arah sumur zamzam, setibanya di sana kemudian mereka merebahkan tubuh Rasulullah yang kemudian Jibril as membelah dada beliau yang mulya sampai di bawah perut beliau, lalu Jibril berkata kepada Mikail:

"Datangkan kepadaku nampan dengan air zam-zam agar aku bersihkan hatinya dan aku lapangkan dadanya".

Pembedahan menjelang Isra ini merupakan pembedahan keempat kalinya; yang pertama ketika beliau masih menyusu pada Siti Halimah Sa’diyah, yang kedua ketika usia baligh, yang ketiga ketika diangkat menjadi utusan (rasul), dan keempat ketika akan diisrakan.

Kemudian Jibril AS mengeluarkan hati beliau yang mulya lalu menyucinya tiga kali, kemudian didatangkan satu nampan emas dipenuhi hikmah dan keimanan, kemudian dituangkan ke dalam hati beliau, maka penuhlah hati itu dengan kesabaran, keyakinan, ilmu dan kepasrahan penuh kepada Allah, lalu ditutup kembali oleh Jibril AS.

Dan perlu diketahui bahwa penyucian ini bukan berarti hati Nabi kotor, tidak, justru Nabi sudah diciptakan oleh Allah dengan hati yang paling suci dan mulya, hal ini tidak lain untuk menambah kebersihan diatas kebersihan, kesucian diatas kesucian, dan untuk lebih memantapkan dan menguatkan hati beliau, karena akan melakukan suatu perjalanan maha dahsyat dan penuh hikmah serta sebagai kesiapan untuk berjumpa dengan Allah SWT. Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi mengatakan di dalam kitab Simtudduror:

Mereka membaringkannya dengan hati-hati

Lalu membelah dadanya dengan lemah lembut

Dan mengeluarkan apa yang mereka keluarkan

Lalu menyimpankan rahasia ilmu dan hikmah ke

dalamnya

“Tiada suatu kotoran menganggu

yang dikeluarkan malaikat dari hatinya,

Tapi mereka hanya menambahkan

Kesucian di atas kesucian…”

Dalam syarahannya mengenai hadis Isra dan Mi’raj pada kitab At-Taajul Jaami’lil ushuul fi ahaadiitsir rasuul, Syeikh Manshur Ali Nashif menulis: Sesudah itu mereka (para malaikat) mendatangkan kepada Rasululah seekor hewan putih lebih kecil dari baghal tetapi lebih besar dari keledai, yaitu hewan buraq. Buroq tersebut dahulunya sering dinaiki oleh para nabi sebelum Nabi Muhammad saw. Buroq adalah hewan yang besarnya lebih tinggi dari keledai tetapi lebih rendah dari baghal; warna kulitnya putih dan mempunyai dua sayap yang ada di sebelah kanan dan kirinya. Sekali lompat dapat mencapai sejauh matanya memandang; apabila turun kedua kaki depannya memanjang, dan apabila naik kedua kaki belakangnya memanjang, sehingga punggungnya tetap stabil. Nabi saw menaikinya lalu terbang dengan diiringi oleh Malaikat Jibril dan Malaikat Mikail.

Mereka terus melaju, mengarungi alam ciptaan Allah SWT yang penuh keajaiban dan hikmah dengan Inayah dan Rahmat-Nya.

Saudaraku, jika kita perhatikan dengan baik Isra Mi’raj Nabi Muhammad saw, maka tampaklah sebuah kenyataan bahwa perjalanan itu merupakan perjalanan menuju tempat-tempat yang berkah, menemui manusia-manusia yang berkah dan kemudian bertemu dengan sumber segala keberkahan, yaitu Allah yang Maha Kuasa. Secara jelas Allah mewahyukan:

Allah berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِيْ أَسْـرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِنَ الْمَسْــجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْـجِدِ الأَقْصى الَّــذِيْ بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ .

Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami BERKAHI sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Al-Isra, 17:1)

Nabi saw berangkat dari Mekah, kota yang penuh berkah, menuju Masjidil Aqsha yang penuh berkah dan sebelumnya juga singgah di tempat-tempat yang berkah. Dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Nasa’i, Rasulullah saw bersabda:

“Aku diberi seekor hewan yang lebih tinggi dari keledai dan lebih rendah dari baghal. Langkah hewan itu sejauh pandangannya. Aku menungganginya, dan Jibril Alaihissalam mendampingiku. Aku pun pergi. Di sebuah tempat Jibril berkata, “Turunlah, shalatlah di sini.” Aku pun turun dan shalat. Setelah itu Jibril berkata, “Tahukah di mana engkau tadi shalat?” Engkau tadi shalat di Thaibah (Madinah), di sanalah tempat hijrahmu.” (Setelah melanjutkan perjalanan) Jibril berkata, “Turunlah di sini dan shalatlah.” Aku pun melaksanakan permintaannya. Setelah itu Jibril berkata, “Tahukah di mana engkau tadi shalat? Engkau shalat di Thursina, di mana Allah ‘Azza wa Jalla berbicara kepada Musa ‘Alaihissalam.” (Setelah melanjutkan perjalanan) Jibril berkata, “Turunlah di sini dan shalatlah.” Aku pun turun dan shalat. Setelah itu Jibril berkata, “Tahukah di mana engkau tadi shalat? Engkau shalat di Bethlehem, tempat kelahiran Isa Alaihissalam.” Setelah itu aku memasuki Baitul Maqdis, di sana semua Nabi ‘Alaihissalam dikumpulkan untuk (bertemu dengan)ku. Jibril kemudian membawaku ke depan (untuk menjadi imam). Aku pun lalu mengimami mereka…” (HR Nasa’i)

Coba anda perhatikan, ternyata Nabi saw diajak untuk singgah di tempat-tempat yang penuh berkah. Beliau saw singgah di Madinah, dan shalat di sana, singgah di bukit Thursina, tempat di mana Nabi Musa as diangkat menjadi Rasul, dan beliau shalat di sana. Kemudian beliau singgah di Bethlehem, tempat kelahiran Nabi Isa as, dan shalat di sana. Perjalanan ini berawal dari Makkah di mana terdapat Kabah yang DIBERKAHI dan merupakan pusat ibadah umat islam. Ia merupakan rumah pertama yang dibangun di muka bumi. Usia kabah setara dengan usia bumi ini. Allah mewahyukan:

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang DIBERKAHI dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (Ali Imran, 3:96)

Siapapun yang berkunjung ke sana akan mendapatkan banyak manfaat, ia akan bertemu manusia dari segala bangsa, mendapat percikan cahaya iman mereka, dapat pula memperoleh keuntungan duniawi, memberikan rasa aman (3:97), dan pahala ibadah yang kita lakukan di sekitar kabah berlipat ganda dibandingkan di tempat lain.

Persinggahan Isra’ Rasulullah diantaranya adalah Thaibah yakni Kota Madinah yang memiliki banyak keberkahan. Kota inilah pelabuhan hijrah Nabi Muhammad saw beserta para sahabat. Dari kota inilah cahaya Islam menyebar ke seluruh penjuru dunia. Dari sekian banyak keberkahan, keberkahan terbesar Madinah adalah bersemayamnya Nabi Muhammad saw di sana. Tidak ada tanah yang lebih mulia dari tanah yang di dalamnya terdapat tubuh manusai yang paling bertakwa, yang paling mulia, yang paling dicintai Allah yaitu baginda Rasulullah saw. Ingatkah Anda ketika pemuda Anshar kurang puas dengan pembagian hasil perang, di mana Nabi saw lebih banyak memberi warga Mekah yang baru memeluk Islam untuk menarik hati mereka? Apa sabda Nabi saw kepada Anshar, warga Madinah, coba Anda simak:

“Tidak senangkah kalian, jika mereka pulang ke rumahnya membawa harta rampasan perang, sedangkan kalian pulang membawa Rasulullah saw ke rumah-rumah kalian? Andaikata kaum anshar melewati sebuah lembah atau lereng, maka aku akan melewati lembah atau lereng yang dilewati Anshar.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Ahmad)

Dalam kesempatan lain baginda Muhammad saw bersabda:

“Barangsiapa mampu untuk meninggal dunia di kota Madinah, maka hendaknya dia lakukan hal itu, sebab aku akan memberikan syafaat kepada orang yang meninggal di Madinah. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Karena itulah para ulama dan segenap umat Islam dari zaman ke zaman memuliakan kota Madinah dan mengharapkan keberkahannya. Imam Syafi’i bercerita: Didepan pintu rumah Imam Malik kulihat tertambat seekor kuda Mesir yang sangat indah. Aku belum pernah melihat kuda sebaik itu. “Betapa indah kuda itu,” ucapku kepada beliau. “Wahai Abu Abdillah, kuhadiahkan kuda itu kepadamu.”

“Simpanlah seekor hewan sebagai tungganganmu,” ujarku.

“Aku malu kepada Allah untuk menginjak tanah yang di dalamnya terdapat Nabi Muhammad saw dengan kaki hewan tungganganku,” jawab imam Malik ra.

Kemudian beliau saw singgah di bukit Thursina ini yang mana keberkahannya tertulis di dalam Al Quran, Allah mewahyukan:

“Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir LEMBAH YANG DIBERKAHI, dari sebatang pohon kayu, yaitu: “Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-Qashash, 28: 30)

Kemudian persinggahan Isra berikutny adalah Bethlehem tempat dimana Nabiyallah Isa as dilahirkan. Dimana pun Nabi Isa as berada, senantiasa membawa keberkahan bagi penduduk sekitarnya. Nabi Isa sendiri telah menyatakan bahwa diri beliau diberkati, Allah mewahyukan:

“Dan DIA menjadikan Aku seorang yang DIBERKATI di mana pun aku berada.” (Maryam, 19:31)

Ketika menjelaskan ayat ini, Syeikh Abdulqadir Al-Jailani ra berkata: Di antara keberkahan Nabi Isa as adalah berbuahnya pohon kurma untuk ibu beliau Ash-Shiddiqiyyah Maryam as. Kemudian, munculnya air dari bawah pohon kurma itu. Kejadian ini tiada lain adalah di Bethlehem tempat di mana Nabi Isa as dilahirkan.

Allah Azza Wa jalla mewahyukan:

Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu.” (Maryam, 19:24-26)

Setelah singgah di tempat-tempat yang berkah, barulah Nabi saw berangkat menuju Masjidil Aqsha yang disekelilingnya diberkati Allah.

Para ulama menjelaskan bahwa daerah sekitar masjidil Aqsha dikatakan berkah karena dua hal, pertama adalah karena tanahnya subur dan kaya akan hasil bumi. Kedua, karena begitu banyak Nabi dan orang-orang saleh yang dimakamkan di sana.

Saudaraku, kita semua tahu, bahwa inti Isra Mi’raj adalah pertemuan Nabi Muhammad dengan Allah. Pertanyaannya, mengapa sebelum pertemuan itu Allah memerintahkan Nabi saw untuk singgah di tempat-tempat yang bersejarah tersebut? Semua itu tiada lain adalah sebuah bentuk pembelajaran.

Allah ingin memberitahukan kepada kita bahwa napak tilas para Nabi, rasul dan kaum sholihin adalah tempat-tempat yang mulia, kita tidak boleh melupakannya begitu saja. Di sana terdapat banyak keberkahan yang dapat kita peroleh. Sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw dalam Isra Mi’raj di atas, maka seyogyanya kita juga melakukan perjalanan ibadah ke tempat-tempat bersejarah Islam, napak tilas para Nabi dan kaum sholihin. Semoga sunnah Nabi saw ini dapat kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Demikianlah perjalanan ditempuh oleh beliau SAW dengan ditemani Jibril dan Mikail, begitu banyak keajaiban dan hikmah yang beliau temui dalam perjalanan itu sampai akhirnya beliau berhenti di Baitul Maqdis (Masjid al Aqsho). Beliau turun dari Buraq lalu mengikatnya pada salah satu sisi pintu masjid, yakni tempat dimana biasanya Para Nabi mengikat buraq di sana.

Kemudian beliau masuk ke dalam masjid bersama Jibril AS, masing-masing sholat dua rakaat. Setelah itu sekejab mata tiba-tiba masjid sudah penuh dengan sekelompok manusia, ternyata mereka adalah para Nabi yang diutus oleh Allah SWT. Diantara jamaah para nabi tersebut Nabi saw melihat Nabi Musa as sedang shalat, yang ternyata ia berbadan kurus dan berambut keriting, seakan-akan seseorang dari kalangan Bani Syanu’ah. Beliau pun melihat Nabi Isa Ibnu Maryam as sedang shalat, orang yang paling mirip dengannya ialah ‘Urwah ibnu Mas’ud Ats-Tsaqafi. Beliau juga melihat Nabi Ibrahim as sedang shalat dan orang yang paling mirip dengannya ialah beliau sendiri. Kemudian dikumandangkan adzan dan iqamah, lantas mereka berdiri bershof-shof menunggu siapakah yang akan mengimami mereka, kemudian Jibril AS memegang tangan Rasulullah SAW lalu menyuruh beliau untuk maju, kemudian mereka semua sholat dua rakaat dengan Rasulullah sebagai imam. Hal ini mengisyaratkan bahwa Nabi Muhammad saw lebih utama dan lebih mulia daripada mereka di sisi Allah. Beliaulah Imam (Pemimpin) para Anbiya' dan Mursalin. Ketika beliau saw selesai dari shalat, tiba-tiba ada seseorang mengatakan, “Hai Muhammad, ini adalah Malaikat malik penjaga pintu neraka, ucapkanlah salam kepadanya”. Aku menoleh dan ternyata dialah yang memulai bersalam kepadaku.

Kemudian setelah beliau menyempurnakan segalanya, -- Syeikh Manshur menjelaskan – lalu dipasang untuk beliau Mi’raj, yaitu berupa tangga yang memiliki tingkatan-tingkatan sesuai dengan jumlah lapisan langit. Barangsiapa yang menaiki satu derajat dari Mi’raj itu, maka Mi’raj akan membawanya naik ke tingkatan yang selanjutnya lebih cepat dari sekejap mata sampai akhirnya beliau SAW berjumpa dengan Allah dan berbicara dengan Nya, yang intinya adalah beliau dan umat ini mendapat perintah sholat lima waktu. Sungguh merupakan nikmat dan anugerah yang luar biasa bagi umat ini, di mana Allah SWT memanggil Nabi-Nya secara langsung untuk memberikan dan menentukan perintah ibadah yang sangat mulya ini. Cukup kiranya hal ini sebagai kemulyaan ibadah sholat. Sebab ibadah lainnya diperintah hanya dengan turunnya wahyu kepada beliau, namun tidak dengan ibadah sholat, Allah memanggil Hamba yang paling dicintainya yakni Nabi Muhammad SAW ke hadirat Nya untuk menerima perintah ini.

Ketika beliau dan Jibril sampai di depan pintu langit dunia (langit pertama), ternyata disana berdiri malaikat yang bernama Ismail, malaikat ini tidak pernah naik ke langit atasnya dan tidak pernah pula turun ke bumi kecuali disaat wafatnya Rasulullah SAW, dia memimpin 70 ribu tentara dari malaikat, yang masing-masing malaikat ini membawahi 70 ribu malaikat pula.

Jibril meminta izin agar pintu langit pertama dibuka, maka malaikat yang menjaga bertanya:
 "Siapakah ini?"
Jibril menjawab: "Aku Jibril."
Malaikat itu bertanya lagi: "Siapakah yang bersamamu?"
Jibril menjawab: "Muhammad saw."
Malaikat bertanya lagi: "Apakah beliau telah diutus (diperintah)?"
Jibril menjawab: "Benar".
Setelah mengetahui kedatangan Rasulullah malaikat yang bermukim disana menyambut dan memuji beliau dengan berkata:
"Selamat datang, semoga keselamatan menyertai anda wahai saudara dan pemimpin, andalah sebaik-baik saudara dan pemimpin serta paling utamanya makhluk yang datang".
Fahamlah kita dari ucapan ini, tidak ada satupun makhluk yang lebih mulia menginjak langit pertama melebihi Sayyidina Muahmmad shallallahu 'alaihi wasallam
Maka dibukalah pintu langit dunia ini".

Setelah memasukinya beliau bertemu Nabi Adam dengan bentuk dan postur sebagaimana pertama kali Allah menciptakannya. Nabi saw bersalam kepadanya, Nabi Adam menjawab salam beliau seraya berkata:

"Selamat datang wahai anakku yang sholeh dan nabi yang sholeh".

Di kedua sisi Nabi Adam terdapat dua kelompok, jika melihat ke arah kanannya, beliau tersenyum dan berseri-seri, tapi jika memandang kelompok di sebelah kirinya, beliau menangis dan bersedih. Kemudian Jibril AS menjelaskan kepada Rasulullah, bahwa kelompok disebelah kanan Nabi Adam adalah anak cucunya yang bakal menjadi penghuni surga sedang yang di kirinya adalah calon penghuni neraka.

Kemudian beliau naik ke langit kedua, seperti sebelumnya malaikat penjaga bertanya seperti pertanyaan di langit pertama. Akhirnya disambut kedatangan beliau SAW dan Jibril AS seperti sambutan sebelumnya. Di langit ini beliau berjumpa Nabi Isa bin Maryam dan Nabi Yahya bin Zakariya, keduanya hampir serupa baju dan gaya rambutnya.

Nabi saw menyifati Nabi Isa bahwa dia berpostur sedang, putih kemerah-merahan warna kulitnya, rambutnya lepas terurai seakan-akan baru keluar dari hammam, karena kebersihan tubuhnya.
Nabi bersalam kepada keduanya, dan dijawab salam beliau disertai sambutan: "Selamat datang wahai saudaraku yang sholeh dan nabi yang sholeh".

Kemudian tiba saatnya beliau melanjutkan ke langit ketiga, setelah disambut baik oleh para malaikat, beliau berjumpa dengan Nabi Yusuf bin Ya'kub. Beliau bersalam kepadanya dan dibalas dengan salam yang sama seperti salamnya Nabi Isa.
Nabi berkomentar: "Sungguh dia telah diberikan separuh ketampanan". Dalam riwayat lain, beliau bersabda: "Dialah paling indahnya manusia yang diciptakan Allah, dia telah mengungguli ketampanan manusia lain ibarat cahaya bulan purnama mengalahkan cahaya seluruh bintang".

Ketika tiba di langit keempat, beliau berjumpa Nabi Idris AS. Kembali beliau mendapat jawaban salam dan doa yang sama seperti Nabi-Nabi sebelumnya.

Di langit kelima, beliau berjumpa Nabi Harun bin ‘Imran AS, separuh janggutnya hitam dan seperuhnya lagi putih (karena uban), lebat dan panjang.

Pada tahapan langit keenam inilah beliau berjumpa dengan Nabi Musa AS, seorang nabi dengan postur tubuh tinggi, putih kemerah-merahan kulit beliau. Nabi saw bersalam kepadanya dan dijawab oleh beliau disertai dengan doa. Setelah itu Nabi Musa berkata: "Manusia mengaku bahwa aku adalah paling mulyanya manusia di sisi Allah, padahal dia (Rasulullah saw) lebih mulya di sisi Allah daripada aku".

Setelah Rasulullah melewati Nabi Musa, beliau menangis. Kemudian ditanya akan hal tersebut. Beliau menjawab: "Aku menangis karena seorang pemuda yang diutus jauh setelah aku, tapi umatnya lebih banyak masuk surga daripada umatku".

Kemudian Rasulullah saw memasuki langit ketujuh, di sana beliau berjumpa Nabi Ibrahim AS sedang duduk di atas kursi dari emas di sisi pintu surga sambil menyandarkan punggungnya pada Baitul Makmur.

Setelah Rasulullah bersalam dan dijawab dengan salam dan doa serta sambutan yang baik, Nabi Ibrahim berpesan: "Perintahkanlah umatmu untuk banyak menanam tanaman surga, sungguh tanah surga sangat baik dan sangat luas". Rasulullah bertanya: "Apakah tanaman surga itu?", Nabi Ibrahim menjawab: "(Dzikir) Laa haula wa laa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adziim".

Dalam riwayat lain beliau berkata:

"Sampaikan salamku kepada umatmu, beritakanlah kepada mereka bahwa surga sungguh sangat indah tanahnya, tawar airnya dan tanaman surgawi adalah Subhanallah wal hamdu lillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar".

lantas Rasul berkata setelah itu aku di naikkan ke Baitul Ma’mur yang tempatnya tepat berada diatas Ka’bah, lantas aku berkata pada Jibril, “apa ini wahai Jibril?”
 
Jibril berkata :

“ini Baitul Ma’mur, 70 ribu malaikat shalat setiap harinya dan keluar dari Baitul Ma’mur 70 ribu dan tidak pernah kembali lagi terus keluar 70 ribu tepat diatas ka’bah al Musyarrafah tempatnya”

Hadirin hadirat lantas Rasul saw dinaikan lagi sampai mendengar lauhul mahfud (ketentuan takdir) sampai ia mendengar yaitu keputusan-keputusan Allah swt lantas setelah itu diperintah untuk menghadap langsung kepada Allah swt, Jibril berhenti tidak meneruskan menemani lagi, karena dalam riwayat yang lainya Jibril berkata : “aku tidak mampu terus menghadap kepada Allah karena tidak diizinkan untuk menghadap, hanya engkau yang diizinkan untuk menghadap, kalau aku naik aku akan hancur terbakar dengan cahaya hijab, dari hijabnya Allah swt, cahaya dari 70 ribu tabir cahaya yang menutupi makhluk dengan Al Khaliq, jika sampai aku ke hijab itu aku akan terbakar” kata Jibril.
 
70 ribu tabir terbuka untuk Sayyidina Muhammad saw, saat itulah beliau berjumpa dengan Allah subhanahu wata'ala, dan Allah subhanahu wata'ala telah berfirman :

“Saat itu sangat dekat dia dengan Allah subhanahu wata'ala” (QS Annajm 8-9)

Diantara sekian banyak rahasia didalam mi’raj diantaranya adalah ucapan para penyair bahwa ketika Nabi Musa a.s menghadap Allah Swt di Bukit Tursina, maka disaat itu diperintahkan kepada Musa :

“lepas kedua sandal mu wahai Musa kau berada di lembah yang suci” (QS Thaahaa 12)

Maka disaat Rasulullah saw Mi’raj naik ke hadhratullah tidak diperintah membuka kedua sandalnya, maka berkata para penyair dalam syairnya manakah yang lebih mulia sandal atau Jibril as, jibril tidak bisa naik kehadhratullah tapi sandalnya Rasulullah naik ke hadhratullah swt, tentu jibril as lebih mulia dari sandal, sandal hanya terbuat dari kulit kambing tapi karena sandal terikat dengan kaki Sayyidina Muhammad saw walaupun terbuat dari kulit kambing karena terikat dengan kaki Rasulullah saw, demikian pakaian Rasulullah saw naik ke hadirat Allah swt, tidak diperintah membuka kedua sandalnya sebagai tanda bahwa orang-orang yang terikat hatinya dengan Rasulullah saw sangat dekat dengan Allah swt, Allah tidak perintahkan semua yang bersama Rasul untuk berpisah, bahkan sandalnya pun tidak diperintahkan dibuka menunjukkan lebih lagi hatinya yang terikat cinta pada Sayyidina Muhammad saw, mereka mendapatkan rahasia kemuliaan isra’ wal mi’raj, seluruh ummat beliau buktinya, saat kita shalat kita mengulang kembali kalimat percakapan Allah dengan Nabi Muhammad saw: yaitu : attahiyyatul Mubaarakaatu….dst.

kalimat itu kalimat percakapan antara Allah dan Nabi Muhammad saw, kau ucapkan didalam shalat, setiap shalat kita mengucapkannya, rahasia kemuliyaan isra’ wal mi’raj tumpah pada kita 5 kali setiap harinya, ingin lebih lakukan lagi, ada shalat dhuha, ada shalat witir, ada shalat tahajjud, ada shalat shalat lainnya.

Diriwayatkah didalam Assyifa oleh Hujjatul Islam Al Qadhi’iyad rah. bahwa di saat itu Rasul shallallahu 'alaihi wasallam menceritakan :

“Saat aku naik menuju Mi’raj aku melihat dilangit itu para malaikat gemuruh dengan dzikir dan tasbih dan warna dan bentuk yang belum pernah aku lihat di permukaan bumi ada warna seperti itu dan bentuk seperti itu dan kulihat hamparan surga itu bentangan tanahnya adalah Misk yang di keringkan, minyak wangi yang mengering dari indahnya di campur dengan berlian dan juga mutiara dan kemudian aku sampai ketika menembus Muntahal khalai’iq (batas akhir seluruh Makhluk) tidak lagi kudengar satu suarapun, sepi dan senyap, tidak ada lagi bentuk dan warna warni dan saat itu akupun mendengar satu suara :

“mendekat mendekat wahai Muhammad, tenangkan dirimu dari ketakutanmu wahai Muhammad "

maka beliau pun bersujud lalu berkata : Attahiyyatul Mubaarakaatusshalawaatutthayyibaatu lillah“

(Rahasia keluhuran, kebahagiaan, kemuliaan, keberkahan, milik Allah dan untuk Allah subhanahu wata'ala)

Maka aku mendengar jawaban ucapan Rasul : Assalaamu alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh”, (Salam sejahtera wahai Nabi dan Rahmatnya Allah, dan keberkahannya)

Maka aku menjawab : “Assalaamu alaina, wa alaa ibaadillahisshaalihiin” (Salam sejahtera bagi kami (yaitu aku dan ummatku), dan hamba hamba yg shalih (yaitu para nabi dan malaikat)

Beliau tidak mau mengambil rahasia salam sejahtera dari Allah sendiri, tapi ingin menyertakan Ummat Beliau shallallahu 'alaihi wasallam dengan ucapan :

“salam sejahtera untuk kami dan para hamba Allah yang Shaleh yaitu para malaikat dan para Rasul dan Nabi”

Demikian sebagian ulama menjelaskan.

Saudaraku, maka di wajibkannya 50 waktu shalat, lantas beliau turun berjumpa dengan Nabiyallah Musa As,

“apa yang dikatakan Tuhanmu?”

“aku di berikan hadiah untuk membawa shalat 50 waktu”

“baliklah..!, bani Israil tidak mampu melakukan 50 waktu apalagi ummatmu, Ummatmu lebih pendek usianya, lebih lemah, lebih tidak berdaya, balik lagi minta kekurangan”

Maka Rasulullah saw kembali, ketika meminta kekurangan seraya berkata :

“Wahai Allah sungguh Ummatku sudah sangat lemah dibanding ummat-ummat sebelumnya” Maka Allah subhanahu wata'ala menguranginya 10 menjadi 40 waktu,

Dia turun pada Nabiyallah Musa, Musa a.s berkata :

“apa yang kau dapat, di kurangi berapa?”

Rasul saw menjawab : “sepuluh”

“kembalilah lagi, 40 waktu tidak mampu ummatmu, minta dikurangi lagi, minta keringanan”

Maka Nabi saw balik lagi pada Allah, dikurangkan lagi 10 hingga demikian sampai 5 waktu yaitu beliau bulak balik demi minta keringanan.

Didalam salah satu riwayat Nabiyallah Musa a.s itu ketika beliau a.s mendengar firman Allah Swt di bukit Tursina, setelahnya ia turun dari bukit tersebut sambil menutup telingannya dari semua suara benda dan hewan karena ia tidak tahan mendengar buruknya suara benda dan hewan karena ia telah mendengar suara yang sangat begitu lembut dan indah mewakili firmannya Allah Swt hingga ia tidak kuat mendengar suara air, suara burung, suara manusia, suara hewan yang semuanya menyakiti telinga Musa a.s. Hal itu terjadi pada Nabiyallah Musa a.s di dunia. cahaya terang pun terlihat diwajah Nabiyallah Musa yang dilihat oleh istri dan anak-anaknya hingga mereka berkata, “Demikian terang benderang wajahmu.” Nabiyallah Musa As berkata : “Aku tadi mendapat firman Allah Swt.” maka ketika di malam isra’ wal mi’raj Nabi Musa a.s melihat wajah Rasulullah Saw sesaat setelah kembali dari hadapan Allah Swt dengan wajah yang terang benderang bias dari cahaya Rabbul’alamin swt, Nabiyallah Musa a.s bahkan mencari alasan supaya Muhammad kembali lagi ke atas supaya bisa balik lagi, jumpa lagi, melihat lagi cahaya keindahan Allah, wajah Beliau bagaikan cermin yang mencerminkan cahaya keagungan Ilahi, balik lagi keatas, balik lagi hingga berkali kali Nabi Musa a. bisa menikmati bias dari cahaya keindahan Rabbul’alamin yang terlihat di wajah Sayyidina Muhammad Saw dan setelah itu Nabiyallah Musa pun ketika Rasul berkata :

“sudah cukup 5 waktu tadi sudah di beri pahala 50 waktu oleh Allah subhanahu wata'ala”

”Kembali lagi”

Rasul berkata : “aku sudah malu, karna Allah Swt sudah berfirman : “ Aku sudah lewatkan dan sudah jalankan fardhu Ku untuk hamba-hamba Ku”(Shahih Bukhari)

Yaitu Allah Swt telah menentukannya dan tidak lagi merubahnya 5 waktu, Allah Maha tahu shalat itu 5 waktu bukan 50 waktu, namun Allah ingin memberi isyarat kepada sang Nabi dan kepada ummat beliau yaitu kita berapa besarnya rindu kita kepada Allah Swt, berapa besarnya rindu Allah pada kita, Allah meminta 50 kali kita menghadap, kita 5 kali saja ada yang masih malas dan keberatan, berapa cinta Allah kepada kita, berapa cinta kita kepada Allah, Allah minta 50 kali, karena kita lemah kita diberi 5 kali tapi sama dengan 50 waktu seakan akan 50 kali menghadap Allah, inilah cinta nya Rabbul’alamin kepada hamba-Nya.

Rasul saw kembali membawakan kepada kita hadiah Ilahiyah berupa 5 waktu yang mulya, 5 waktu suci untuk menghadap Ilahi, jiwa dengan jiwa, ruh dengan ruh. Walaupun jasad kita di bumi tapi ruh dan jiwa kita dan sanubari kita saat mulai takbiratul ihram hingga salam saat itu terbuka hijab antara hamba dengan Allah swt, sebagaimana hadits Rasul saw: “Barang siapa yang melakukan shalat sungguh ia sedang berbicara dan bercakap cakap dan menghadap Allah subhanahu wata'ala.